Di Mana Investasi Properti Resor Lebih Menguntungkan: Dubai, Thailand, atau Bali? Perbandingan Imbal Hasil, Risiko, dan Skema Pembelian
AB
Andrei Balinsky
Pendiri Balinsky
"Ke mana sebaiknya berinvestasi di properti resor: Thailand, Dubai, atau Bali?
Intinya singkat
• Dubai - lebih stabil dan aturannya sederhana.
• Thailand - keseimbangan yang baik antara imbal hasil dan risiko.
• Bali - potensi return tertinggi, tapi pengelolaannya lebih rumit.
Thailand
• Pariwisata terus tumbuh, infrastruktur juga makin baik.
• WNA relatif mudah membeli kondominium, sedangkan tanah biasanya lewat lease atau struktur perusahaan.
• Imbal hasil: 7-10% bruto, di area resor bisa lebih tinggi.
• Risiko: lease tanah dan potensi pasar terlalu panas di beberapa lokasi.
Dubai
• Brand kota kuat, event berlangsung sepanjang tahun.
• Freehold penuh, visa tersedia mulai sekitar ~200k-550k.
• Imbal hasil: 6-8% bruto, pajak hampir tidak ada.
• Risiko: pasar bersifat siklikal dan ada service charge.
Bali
• Arus wisatawan mencetak rekor, dan ada rencana bandara baru.
• Umumnya memakai skema leasehold 25-30 tahun atau melalui perusahaan.
• Imbal hasil: 12-18% bruto, 8-12% net realistis.
• Risiko: aspek legal lebih kompleks, likuiditas lebih rendah, mata uang lebih lemah.
Patokan budget
• 100-150k - titik awal masuk di Thailand atau Bali.
• 200-300k - vila leasehold yang bagus di Bali, unit 1-2 kamar di Thailand, studio/1BR di kawasan baru Dubai.
• 500k+ - Dubai dengan visa jangka panjang.
• 1-3 mln+ - properti premium di Dubai dan vila top di Asia.
Mana yang cocok
• Ingin lebih tenang dan aman - Dubai.
• Butuh keseimbangan - Thailand.
• Mengejar return maksimal dan siap mendalami detail - Bali.
Cara yang lebih cerdas
• Diversifikasi: sebagian di Dubai untuk cash flow stabil, sebagian di Thailand untuk keseimbangan, porsi lebih kecil di Bali untuk return tinggi.
• Selalu siapkan cadangan dana jika sektor pariwisata melemah.
• Beli aset yang mudah disewakan dan dijual kembali: lokasi, produk, dan manajemen."