Yield Riil Properti Bali per Area 2024–2025

AB
Andrei Balinsky
Pendiri Balinsky
Diterbitkan 16 Juli 2026
Imbal hasil 25% per tahun adalah klaim paling sering menyesatkan di pasar properti Bali. Agar investor tidak kecewa dan agen bisa bekerja dengan jujur, mari lihat angka riil per area. Rata-rata tarif sewa villa per malam (objek leasehold, 2-bedroom): Ubud — $200–500 per malam, imbal hasil tahunan 10–15%. Wisatawan menginap 5–10 hari, 41% kembali lagi. Durasi tinggal lebih lama, sehingga okupansi lebih stabil. Canggu — $180–400 per malam, imbal hasil tahunan 8–12%. Wisatawan tinggal 3–6 hari, rotasi tinggi. Okupansi villa 65–80% tergantung sub-area. Seminyak — $200–450 per malam, imbal hasil 7–11%. Pasar matang, cukup jenuh, dengan audiens premium. Sanur — $120–300 per malam, imbal hasil 6–10%. Segmen keluarga yang stabil, dengan booking lebih panjang. Bukit/Uluwatu — $200–700 per malam, imbal hasil 8–14%. Segmen premium, ditopang wisata selancar dan privasi. Harga per meter persegi untuk leasehold (tahun 2024): Ubud — $2500–3800, kenaikan 5–6% per tahun. Canggu — $3500–5000, kenaikan 6–8%. Seminyak — $4000–5500, kenaikan 5–7%. Sanur — $2000–3500, kenaikan 3–5%. Apa arti angka-angka ini dalam praktik: — Ubud dengan modal masuk yang lebih rendah bisa memberi imbal hasil yang sebanding dengan Canggu, karena standar pembangunan di Ubud lebih rendah dan pesaing dengan positioning luxury lebih sedikit. — Bukit adalah pasar paling “mahal”, tetapi sebagai gantinya persaingan lebih rendah dan booking dari audiens premium cenderung lebih panjang. — Sanur menawarkan imbal hasil paling “tenang”. Return lebih rendah — risiko juga lebih rendah. Hal yang sering dilupakan investor: 1. Biaya management company — 20–30% dari pendapatan sewa. 2. Pajak atas pendapatan sewa — 10% untuk non-residen atau tarif PPh untuk residen dengan NPWP. 3. Amortisasi objek leasehold — nilai aset turun saat masa berlaku semakin mendekati akhir. 4. Biaya operasional (listrik, perawatan kolam, tukang kebun, cleaning) — 5–8% dari pendapatan. 5. Penurunan saat low season — musim sepi hanya menghasilkan 30–50% dibanding high season. Hasil akhir “yang benar-benar masuk ke kantong” biasanya 30–40% lebih rendah dari gross yield. Jika gross yield 12%, net yield untuk pemilik biasanya 7–8%. Kerangka praktis: hitung net yield (setelah semua biaya), bukan gross yield, lalu bandingkan dengan alternatif lain (yield eurobond, properti di negara lain, S&P).

Artikel lainnya