Pro

Imbal Hasil Sewa di Bali: Data Nyata (2026)

AB
Andrei Balinsky
Pangadeg Balinsky
Kawedar 19 Juni 2026
Saat developer menjanjikan “imbal hasil terjamin 12–15% per tahun”, pertanyaan pertama adalah: angka itu didasarkan pada data apa? Statistik resmi Bali tidak mengonfirmasi angka tersebut. Inilah yang sebenarnya ditunjukkan oleh datanya.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Permintaan sedang di puncak — itu fakta. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik Indonesia), pada 2025 Bali menerima 6 948 754 wisatawan mancanegara — rekor baru: +9,7% dibanding 2024 (6 333 360) dan lebih tinggi dari level pra-pandemi 2019 (6 275 210). Arus wisatawan memang sudah pulih dan terus tumbuh.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Namun permintaan belum tentu berarti imbal hasil. Metrik utama dalam bisnis sewa adalah tingkat okupansi. Menurut BPS, okupansi hotel berbintang di Bali (TPK) berada di kisaran 57–65% dan sangat bergantung pada musim: Oktober 2025 — 64,57%, November 2025 — 57,97%, Januari 2026 — 56,67%. Untuk akomodasi non-bintang angkanya lebih rendah lagi — sekitar 33% pada Januari 2026. Bahkan hotel profesional pun rata-rata membiarkan sepertiga hingga setengah kamar kosong, dan untuk pulau dengan musim yang sangat terasa, ini adalah hal yang normal.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Rata-rata lama tinggal wisatawan asing sekitar 3 malam (3,1–3,2 menurut BPS). Ini adalah pasar short stay dengan perputaran tinggi: lebih banyak pembersihan, biaya pengelolaan lebih tinggi, dan ketergantungan yang lebih besar pada arus booking yang terus berjalan.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Dari mana tamu datang (2024, BPS): — Australia — 1,54 juta (pasar terbesar, sekitar seperempat dari total arus); — India — 550 ribu; — China — 448 ribu; — Inggris — 295 ribu; — Korea Selatan — 294 ribu; — AS, Prancis, Jerman, Rusia — masing-masing 160–260 ribu. Arus wisatawan cukup terdiversifikasi, tetapi tetap sangat bergantung pada Australia: ini bisa menjadi kelebihan (permintaan stabil), sekaligus risiko (guncangan di satu pasar langsung memukul okupansi).‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Apa yang TIDAK ada dalam statistik resmi. BPS tidak mempublikasikan ADR (harga rata-rata per malam), juga tidak ada data resmi tentang imbal hasil villa dan sewa jangka pendek. Semua klaim seperti “rata-rata 15% untuk villa” biasanya berasal dari materi pemasaran, bukan dari sumber primer. Anggap janji seperti itu sebagai hipotesis yang harus diverifikasi, bukan sebagai fakta.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Cara menilai imbal hasil secara realistis sebelum membeli: — gunakan asumsi okupansi yang masuk akal (50–65%, bukan 90%), termasuk penurunan saat low season; — kurangi biaya manajemen (biasanya 15–25% dari pendapatan), cleaning, utilitas, perbaikan, dan penyusutan furnitur; — perhitungkan pajak atas pendapatan sewa — PPh final 10% dari pendapatan sewa bruto untuk residen; — ingat faktor leasehold: jika hak atas tanah hanya 25–30 tahun, imbal hasil juga harus menutup “penyusutan” masa hak tersebut; — minta laporan okupansi riil selama 12 bulan, bukan sekadar proyeksi dari presentasi.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Kesimpulan: secara fundamental, permintaan di Bali kuat dan terus tumbuh, tetapi imbal hasil yang berkelanjutan hanya bisa dibangun dengan model yang konservatif — okupansi yang jujur, biaya nyata, dan pajak — bukan angka cantik di brosur.‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍ Sumber: — BPS Bali, wisatawan mancanegara 1969–2025: https://bali.bps.go.id/en/statistics-table/1/MjgjMQ==/banyaknya-wisatawan-mancanegara-ke-bali-dan-indonesia--1969-2024.html — BPS Bali, tinjauan pariwisata (okupansi TPK, lama tinggal), siaran pers November 2025: https://bali.bps.go.id/id/pressrelease/2026/01/05/718008/perkembangan-pariwisata-provinsi-bali-november-2025.html — BPS Bali, wisatawan menurut negara, 2024: https://bali.bps.go.id/en/statistics-table/1/MTkzIzE=/-banyaknya-wisatawan-mancanegara-yang-datang-langsung-ke-bali-menurut-kebangsaan-2019-2024.html‌‍​‍‌⁠‍​​⁠‍‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍‍⁠‌‍​‌‌⁠‌⁠‌‍‌‌‌⁠​‍‌⁠‌‌‌‍‍​‌‍​‌‌‍⁠‍​‍⁠⁠‌‍​‍‌‍​‌‌‍⁠​‌‍‍‌​‍⁠‌‌⁠​‍‌‍‌‌‌‍⁠‍‌⁠‌​‌‍​‌‌‍⁠​​‍⁠‌‌⁠‍‌‌‍‍‌‌‍‌‌‌‍⁠​‌‍‌​​‍⁠‌‌‍‌​‌‍​‌‌⁠‌​‌‍​‌​‍⁠‌‌‍​‌‌‍​⁠‌⁠‌​‌⁠‌‌‌‍​‌‌‍⁠​‌‍⁠​‌⁠‍‌​‍⁠‌‌⁠​⁠‌‍‍​‌‍⁠⁠‌⁠‌⁠‌⁠​⁠​‍⁠‌​⁠​‍​⁠​​​⁠​‍​⁠‌‍

Artikel lianan